Buku berjudul Value Investing karya Teguh Hidayat ini adalah buku tentang investasi menggunakan metode value investing. Rangkuman ini mungkin tidak terlalu lengkap, karena bersifat personal untuk kebutuhan saya pribadi agar bisa coba untuk diterapkan. Selamat membaca.
"Value investing adalah membeli saham bagus dibawah harga wajarnya."
Untuk mengetahui harga wajar saham kita perlu informasi dari pihak pertama (perusahaan itu sendiri) yang informasinya bisa di dapat di www.idx.co.id kemudian pilih IDX net.
Dokumen yang perlu dibaca:
Laporan keuangan. Keluar setiap kuartal atau tiga bulan sekali.
Laporan tahunan. Profil perusahaan, bidang perusahaan, lokasi kantor, direktur komisaris, dan kinerja lima tahun terakhir → catatan ringkas kinerja perusahaan secara historis dalam waktu lima tahun terakhir.
Materi public expose. Materi presentasi perusahaan, apa saja yang dikerjakan perusahaan, dan apa yg akan dilakukan di masa mendatang → mempelajari prospek perusahaan.
Laporan hasil public expose. Kumpulan pertanyaan dan jawaban dari materi public expose.
Prospektus jika ada. Biasanya kalau perusahaan mau IPO, right issue, atau menerbitkan obligasi
Saat mencari nama-nama dokumen itu setiap perusahaan namanya beda-beda, kalau ragu bisa di download semua.
Laporan keuangan berisi data keuangan terbaru perusahaan, sementara laporan tahunan lebih lengkap lagi.
Dari dokumen-dokumen itu, kita akan tahu tiga hal:
Kinerja keuangan perusahaan
Profil dan informasi umum perusahaan
Kegiatan perusahaan dan rencana kerja kedepan
Syarat value investing:
Harga saham dibawah harga wajar
Fundamental perusahaan bagus
Manajemen perusahaan baik (biasanya sepaket dengan no. 2)
Cara Menilai Harga Wajar Saham
Nilai aset bersih perusahaan = ekuitas
Present value = ekuitas : jumlah saham beredar = book value
Price to book value (PBV) = harga saham per lembar saat ini : book value
Contoh:
ekuitas saham ASII = 88.9 triliun
Jumlah saham beredar = 40.5 miliar
Harga saat ini = 7200
Maka present value / book value = 88.9 triliun : 40.5 miliar = 2195 per lembar saham
PBV = 7200 : 2195 = 3,28 kali (artinya harganya 3,28 x lebih mahal dari harga bukunya)
Hanya saja, perusahaan bagus PBV nya pasti > 1x alias mahal. Maka ada cara lain untuk menentukan harga wajar saham, yaitu dengan future value.
Future value ini tidak menjanjikan banget, karena sifatnya asumsi saja. Tapi asumsinya juga ada dasarnya, yaitu dengan cara melihat track record di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya yang dilihat adalah ekuitas, pendapatan dan laba bersih (bisa dilihat di laporan tahunan). Jika ketiganya selalu mengalami peningkatan, maka kita bisa memprediksi future value-nya. Tapi jika ketiganya naik turun tidak menentu, atau perusahaannya masih baru, akan sulit untuk memprediksi future value-nya.
Cara perhitungan future value ini ada banyak. Salah satu yang sederhana adalah dengan menghitung ROE (return on equity).
ROE = nilai laba bersih dalam setahun : nilai aset bersih perusahaan
Contoh:
Laba bersih ASII dalam setahun = 18.9 triliun
Nilai aset bersih (ekuitas) = 88.9 triliun
ROE = 18.9 triliun : 88.9 triliun = 0.21 = 21%
ROE ini mirip kayak bunga.
Jadi untuk memprediksi harga wajar adalah dengan mengalikan harga saham di akhir tahun x (100% + ROE)
Contoh:
Harga ASII akhir tahun = 2073
Prediksi harga tahun depan = 2073 x 1.21 = 2508
Tahun depannya lagi = 2508 x 1.21 = 3034
Tahun depannya lagi = 3034 x 1.21 = 3671
Tahun depannya lagi = 3671 x 1.21 = 4441
Tahun depannya lagi = 4441 x 1.21 = 5373
5373 adalah prediksi harga wajar ASII 5 tahun mendatang. Jika dibandingkan dengan harga saat ini yang 7200, maka harga 7200 itu masih mahal alias diatas harga wajar. Ini kalau ROE nya juga masih 21%, karena kadang bisa lebih juga. Dan perlu diingat juga, prediksi ini bisa dibuat karena kinerja ASII yang cenderung naik dari tahun ke tahun. Makanya untuk perusahaan lain, cara ini mungkin juga kurang tepat (karena perusahaan lain bisa jadi kinerjanya naik turun, atau masih baru perusahaannya sehingga belum ada track recordnya).
Menurut penulis, berikut adalah PBV yang dianggap wajar untuk perusahaan yang fundamentalnya cukup bagus:
Maka menurut perhitungan ini, PBV wajar ASII adalah 2.1 kali, yaitu 2195 x 2,1 = 4600. Maka harga 7200 saat ini masih bisa dibilang mahal.
Selain cara diatas, ada juga dengan memperhatikan nama besar perusahaan dan likuiditas (kemudahan menjual). Jika melihat reputasi ASII yang merupakan perusahaan besar, maka PBV wajarnya bisa lebih dari 2.1x. Kata penulis PBV 2.7 - 3x masih dianggap wajar (nggak tahu ini asumsi dari mana ya). Jadi harga wajar ASII adalah sekitar 6000-6600. Berarti harga ASII 7200 masih tetap mahal.
PBV 2-2.5 x wajar untuk perusahaan mapan, beroperasi lama, ROE diatas 20%
PBV 2.5-3 x wajar jika kriteria diatas tercukupi, ditambah sahamnya sangat likuid
PBV < 1x juga tidak selalu saham murah, karena seringnya yang PBV <1x fundamentalnya juga kurang bagus. Cara mengeceknya dengan melacak ekuitas, pendapatan dan laba bersih beberapa tahun ke belakang. Jika cenderung turun dan laba bersih rugi, maka fundamental perusahaan kurang bagus.
“Lebih baik membeli saham bagus di harga yang sewajarnya, daripada membeli saham jelek di harga yang murah.”
Investor ritel bisa memiliki watchlist saham murah, memantau kinerjanya per tiga bulan, kemudian membelinya jika ada perbaikan kinerja.
Valuasi Price to Earning Ratio (PER)
EPS (earning per share) = laba bersih per lembar saham = laba bersih : lembar saham beredar
PER = harga saham : EPS dalam satu tahun
Contoh:
Laba bersih dalam setahun = 1.5 triliun
Jumlah saham beredar = 5 miliar lembar
Harga saham di pasar = 3000
EPS = laba bersih : jumlah saham beredar = 1.5 triliun: 5 miliar = 300 rupiah/lembar saham
PER = harga saham : EPS = 3000 : 300 = 10x
Semakin kecil angka PER, semakin murah sahamnya.
EPS dasar, EPS dilusi. EPS dilusi adalah EPS berdasarkan jumlah lembar saham terbaru.
Cara menyetahunkan EPS:
Kuartal I, EPS x 4
Kuartal II, EPS x 2
Kuartal III, EPS x 4/3
Kekurangan PER adalah perubahannya cukup drastis karena dibandingkannya dengan laba bersih, sementara laba bersih mudah sekali naik turun. Beda dengan PBV yang dibandingkan dengan jumlah ekuitas, dimana jika laba naik maka otomatis ekuitas juga naik. Karena itu PER hanya cocok untuk saham blue chip yang labanya relatif stabil.
Patokan PER yang wajar menurut penulis:
PER >14x jangan beli apapun alasanya
PER <10x, cek fundamental, jika sangat bagus maka wajar
PER <7x, saham grade A, murah sekali
Pengecualian jika perusahaannya extraordinary, dulu UNVR sangat-sangat bagus dengan ROE bisa mencapai 100%.
Selain PBV dan PER ada metode lain, tapi tidak dibahas di buku. Misalnya: dividend yield, discounted cash flow, price to growth ratio, price to cashflow, dll
RINGKASAN MENILAI HARGA WAJAR SAHAM
PBV
MEMPREDIKSI HARGA FUTURE VALUE DENGAN ROE
MELIHAT PBV WAJAR DENGAN ROE
JIKA PERUSAHAAN BAGUS DAN LIKUID, MAKA PBV 2.7-3X ADALAH WAJAR
MENGGUNAKAN PER (UNTUK SAHAM BLUE CHIP)
Cara Menyeleksi Fundamental
Buka IDX
Data pasar
Laporan Statistik (laporannya di bagian trade by value) ada 10 nama saham
Lihat laporan keuangannya apakah bertumbuh, untung, dan utangnya wajar
Bertumbuh: ekuitas/aset bersih dan laba bersih naik dari periode sebelumnya. Pada laporan keuangan lihat => total ekuitas yang dapat diatribusikan kepada entitas induk.
Juga melihat laba di bagian laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Kemudian lihat periode sebelumnya.
Untung: ROE => hitung dengan cara diatas
Utang wajar
Memeriksa utang pada perusahaan perbankan berbeda dengan non perbankan. Caranya dengan mendownload laporan keuangan perusahaan versi iklan. Lihat KPMM: kewajiban penyediaan modal minimum = CAR capital adequacy ratio.
Untuk perusahaan non perbankan, lihat utangnya di bagian: jumlah liabilitas. Kemudian gunakan DER (debt equity to ratio) = jumlah utang : jumlah ekuitas. Sebaiknya DER <= 1x, pengecualian bisa DER >1x jika perusahaan konstruksi, multifinance, asuransi dan properti
Tidak perlu terlalu ketat dengan 3 kriteria diatas, karena jika ROE >25%, reputasi bagus, dan valuasinya murah, maka sahamnya masih layak untuk di koleksi.
Untuk 3 kriteria itu saja masih sedikit perusahaan yang memenuhi kriteria. Dalam value investing, fundamental tidak perlu bagus sekali, yang penting valuasinya lebih murah atau setimpal dengan fundamentalnya.
Tips analisa cepat laporan keuangan:
Bandingkan labanya, apakah ada penurunan signifikan atau tidak
Lihat cash flow di bagian laporan laba rugi, tapi lihat laba rugi saja sudah cukup
Hitung ROE, jika ROE besar perhatikan komposisi laba ruginya. Laba berasal dari: operasional perusahaan, penjualan aset. Kenaikannya laba bersih apakah selaras dengan pendapatannya.
Cek ekuitas bertumbuh atau tidak, apakah berasal dari peningkatan saldo laba atau karena tambahan modal disetor
Cek utang, apakah utang bank/obligasi mengandung beban bunga atau utang usaha
Perusahaan yang bagus, ekuitas dan laba bersihnya naik konsisten.
Jika sudah di cek semuanya dan kesimpulannya memiliki fundamental bagus, maka cek manajemennya, kemudian cek valuasi sahamnya.
Setelah menyeleksi perusahaan berdasarkan fundamentalnya, ada dua jenis perusahaan berfundamental bagus:
Bagus sejak dulu, valuasinya mungkin mahal, tapi masukan dulu ke watchlist, agar jika ada peluang valuasi murah bisa langsung buy. Peluang itu misalnya: IHSG terkoreksi dalam, penurunan kinerja (laba sedikit turun), sentimen atau berita negatif.
Bagus baru-baru ini
Analisis fundamental:
Analisis kinerja keuangan
Sektor usaha/industri. Dokumen awal yang bisa dibaca adalah laporan tahunan perusahaan
Makroekonomi negara (perkembangan bisnis lapangan, pergerakan IHSG). Buka data BPS.go.id atau trading-economics.com untuk mempelajari indikator ekonomi indonesia (misalnya pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, dll), amati kondisi ekonomi di lapangan.
Perkembangan ekonomi global, isu-isu global. Baca di Wikipedia, Investopedia, Bloomberg, Yahoo Finance, dll
Membaca dan mempelajari banyak hal, sehingga akan tahu pengaruhnya terhadap kinerja suatu saham,
Menghasilkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan kerugian.
Maximum gain at minimum risk.
Diversifikasi tapi jangan terlalu banyak juga. Pemula 5 saham, 7-12 yang agak lama.
Untuk penempatan dana bisa dilihat profil risiko masing-masing.
Kalau yg aman ya bluechip, kalau risiko tinggi ya secondliner. Tapi risiko tentu akan selalu ada, hanya bisa diminimalisir.
Menilai manajemen perusahaan bisa dengan melihat reputasi, atau berita tentang perusahaan. Apakah ada isu negatif seperti gagal bayar utang dll. Caranya googling. Misalnya dipasangkan dengan kata kasus, pailit, gagal bayar, dll. Juga dengan melihat reputasi pemegang saham pengendali perusahaan. Manajemen perusahaan bisa juga dilihat dari membaca laporan keuangan. Bedakan dengan kasus-kasus yang bersifat operasional karena saking besarnya perusahaan, misalnya Solaria (ada komplain terkait pelayanan karena banyaknya cabang).
Jika fundamental bagus, manajemen bagus, valuasi murah, maka lihat adanya peluang, karena peluang tidak datang setiap hari.
Tugas investor:
Menganalisa perusahaan, IHSG, sektor, makroekonomi, ekonomi global => keputusan jual beli
Mempelajari laporan keuangan per kuartal (3 bulan sekali)
30 April untuk laporan kuartal I
31 Juli untuk laporan kuartal II
31 Oktober untuk laporan kuartal III
31 Maret untuk laporan kuartal IV
kemudian memutuskan beli saham apa dan beli di harga berapa, jual saham apa
Setiap akhir bulan:
Cek posisi harga terbaru saham yang dipegang, jika ada yg turun 5-10% evaluasi turunnya karena apa. Dan kalau naik, valuasi terlalu mahal atau tidak
Cek harga saham yang mau dibeli, apakah sudah murah atau belum
Merangkum berita sentimen positif/negatif, dan pengaruhnya terhadap IHSG, catat juga aksi korporasi
Analisa pergerakan IHSG
Membuat trading planning dan anggaran dana
Sekali setahun, cek performance kita:
Berapa persen loss/profit dibandingkan dengan kenaikan IHSG
Saham profit terbesar dan loss terbesar
Hitung biaya trading
Hitung berapa kali cut loss
Evaluasi strategi

No comments:
Post a Comment